Sambas tidak hanya memiliki panorama alam yang indah, tetapi kabupaten yang terletak di profinsi Kalimantan Barat tersebut juga memiliki sejarah yang besar dalam usahanya dulu untuk mengusir pemberontakan yang dilakukan belanda dan para kolonel jepang. berikut ini peninggalan sejarah dan kedinastian kesultanan sambas yang kini menjadi objek wisata daerah tersebut.
1. Keraton Kesultanan Sambas - Kecamatan Sambas
Siapa
tak mengenal Keraton Kesultanan Sambas ? Kompleks Keraton Sambas yang
terletak di Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, ini menjadi saksi
kejayaan kesultanan Islam di Binua Sambas. Tempat wisata sejarah ini
disebut juga Istana Alwatzhikoebillah Sambas terletak di daerah
pertemuan 3 (tiga) sungai yaitu Sungai Subah, Sungai Sambas Kecil, dan
Sungai Teberau, pada sebuah tempat yang oleh penduduk setempat di sebut
Muare Ullakan.
Hal
menarik lainnya dari Keraton Sambas adalah memiliki arsitekstur bergaya
Eropa dan Cina, dan keraton ini merupakan rumah panggung dengan
ketinggian 50 cm dari permukaan tanah. Kompleks Keraton Sambas memiliki
luas 16.781 m2 dan menghadap ke barat, sehingga di sore hari lokasi
Keraton Sambas menjadi tempat favorit untuk melihat sunset.
Sebelum
memasuki keraton harus melalui tangga dan di depannya terdapat teras.
Keraton terbagi atas tiga bangunan dari utara ke selatan dan
dihubungkan oleh gang yang beratap (seperti koridor). Bangunan induk
terdapat di tengah terdiri dari tujuh ruangan yaitu balairung di bagian
depan, kamar tidur putra-putri sultan (sebelah kiri), ruang keluarga
(sebelah kiri), ruang makan, ruang menjahit.Bangunan utara (kanan)
memiliki lima yaitu tamu/istirahat, tiga ruang tamu, garasi terdapat di
belakang. Antara bangunan selatan dan bangunan induk terdapat ruangan
kosong berukuran 5 x 20 m. Atap keraton Sambas terbuat dari sirap kayu
ulin. Hiasan di atas bangunan induk berupa pahatan dua ekor burung dan
di tengahnya terdapat hiasan geometris.
2. Masjid Jami' Keraton Sambas - Kecamatan Sambas
Masjid Jami Keraton Sambas
adalah masjid yang berada di komplek keraton Kesultanan Sambas,
Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Masjid yang resminya bernama Masjid Sultan Muhammad Syafi'oeddin II ini tercatat sebagai masjid tertua di Kalimantan Barat.
Masjid
Jami Keraton Sambas ini awalnya merupakan rumah sultan yang kemudian
dijadikan langgar (musholla). Dibangun oleh Sultan Umar Aqomuddin yang
memerintah Negeri Sambas pada tahun 1702-1727 Masehi,kemudian masjid
kecil itu direnovasi oleh putranya, Sultan Muhammad Saifuddin dan
dikembangkan menjadi masjid jami dan diresmikan pada tanggal 10 Oktober
1885 M.
Pada
Bagian luar atas migrab mesjid tergantung sebuah papan tertulis ayat
suci Al-Qur'an yang berbunyi " Innama yagmuru masajidillahu man ammana
billah wal yaumil akhir". "Hanya orang-orang yang memakmurkan mesjid
Allah adalah orang-orang yang beriman dengan Allah dan hari akhir yang
akhir".
3. Makam Keramat Bantilan - Kecamatan Sajad
Makam
Keramat Bantilan terletak di tepi Sungai Kuayan Kecamatan Sajad. Makam
tersebuat sudah lama di rawat oleh warga setempat. Makan tersebut di
beri nama bantilan sehingga orang menyebutnya dengan keramat bantilan.
Menurut warga belum ada sesorang yang tau makam siapa dari 10 makam
tersebut.
Keunikan
dari makam keramat bantilan yaitu sebuah pasu atau timpayan kecil warna
kuning itu airnya yang tidak pernah habis walaupun sering di gunakan
untuk cuci muka serta bagi penziarah untuk menyiram makam tersebut sejak
zaman Kerajaan Sambas.
4. Taman Makam Pahlawan (TMP) Sambas - Kecamatan Sambas
Taman
Makam Pahlawan Sambas atau sering disingkat TMP Sambas adalah nama
sebuah lokasi pemakaman yang berlokasi di wilayah Kecamatan Sambas,
Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, dan dikhususkan bagi mereka yang
telah berjasa kepada negara kesatuan Republik Indonesia, termasuk para
pahlawan nasional, anggota militer, dan pejabat tinggi negara.
Taman
Makam Pahlawan Sambas diklaim merupakan TMP termegah di Kalimantan
Barat, pembangunan TMP Sambas menelan biaya sebesar IDR 474.258.000.
Proyek yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) memang dikerjakan
secara maksimal oleh kontraktor dan diawasi langsung oleh Dinas Sosial,
Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertran) Kabupaten Sambas.
Dengan
keberadaan TMP Sambas menambah destinasi atau tujuan wisata sejarah
Kota Sambas dan pengerjaan bangunan ini tentunya tak lepas dari
kesungguhan perusahaan yang menangani, dan keseriusan Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Sambas.
5.Vihara Bumi Raya - Kecamatan Pemangkat
Vihara
Bumi Raya Pemangkat menjadikan Tai Pak Kung sebagai ikon wisata rohani
sekaligus wisata sejarah yang dimiliki oleh Kecamatan Pemangkat.
Klenteng Tai Pak Kung atau Vihara Tridharma Bumi Raya Pemangkat
merupakan klenteng tertua di Kabupaten Sambas. Tak heran apabila
klenteng ini dijadikan salah satu destinasi wisata sejarah dan wisata
rohani oleh masyarakat Kabupaten Sambas maupun orang di luar Kabupaten
Sambas.
Lokasi
yang berada dibawah lereng Gunung Gajah Pemangkat. Membuat umat yang
beribadah atau pengunjung yang berwisata dimanjakan oleh angin yang
segar serta ruang santai yang tersedia cukup membuang penat pengunjung.
Belum lagi salah satu vihara ada yang berada ditengah gunung. Sehingga
para pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Pemangkat dari
ketinggian. Serta pemandangan laut dan pantai Sinam dengan puas.
Kemudian
vihara ini juga telah menyiapkan WC umum yang dapat dipakai umat
maupun pengunjung. Setiap harinya banyak warga baik tionghoa atau
masyarakat setempat datang ke Tai Pak Kung. Hanya sekedar menghabiskan
waktu sore di lereng gunung. Atau mencicipi udara segar di pagi hari.
Sehingga Tai Pak Kung tak pernah sepi dari kunjungan warga
6. Makam Obos - Kecamatan Pemangkat
Ada
satu tempat yang sampai saat ini masih ada keberadaannya yakni Makam
Jendral Belanda Van Den Bosch di atas Bukit Tanjung Batu Pemangkat.
Masyarakat pribumi mengenalnya dengan nama “Obos”, dan di makamnya
terdapat tulisan !0/10 th.1850.
Sosok
Van Den Bosch atau Obos diceritakan oleh masyarakat setempat sebagai
tentara Belanda yang bengis dan memiliki ilmu “rawa rontek” atau ilmu
kebal, untuk membunuhnya harus memisahkan tubuhnya tanpa setitik darah
jatuh ke tanah dan bagian tubuhnya harus dikubur didaratan yang terpisah
oleh laut. Selain Tanjung batu bagian tubuh lainya ada di Gunung
Kalangbau.
7. Monumen Ketupat Berdarah - Kecamatan Jawai
Monumen
Ketupat Berdarah berlokasi di Desa Setia Kecamatan Jawai Kabupaten
Sambas. Mungkin masyarakat umum tidak sedikit yang mengetahui akan
keberadaan monumen sejarah ini, berdirinya monumen ini untuk mengenang
konflik yang melibatkan 3 (etnis) besar di Sambas dikala itu yakni etnis
Mad*ra dengan etnis Melayu Sambas dan Dayak yang terjadi pada saat
perayaan Hari Raya Idul Fitri pada tahun 1999.
8. Keramat Bujang Nadi dan Dare Nandung - Kecamatan Sebawi
Kisah
Bujang Nadi dan Dare Nandung sangat melegenda di Kabupaten Sambas.
Bujang Nadi dan Dare Nandung ini adalah dua beradik, mereka diceritakan
mati dikubur hidup-hidup oleh ayahnya sendiri (Tan Unggal) karena
dituduh melakukan percintaan sesama saudara, padahal semua itu hanyalah
fitnah belaka.
Makam
Dara Nandung dan Bujang Nadi ini masih menyimpan mistis yang tidak
terpecahkan secara akal. Konon, menurut orang-orang terdahulu, keduan
insan ini dikubur hidup-hidup dengan peti besi yang terbuat dari emas
bertemankan seekor ayam jago dan alat tenun punya si Dara Nandung.
Menurut
penduduk setempat, bahwa makam Dara Nandung dan Bujang Nadi pernah
ingin digali untuk mengambil emasnya dengan bantuan orang luar negeri,
akan tetapi keadaan alam dengan cepat berubah, langit menjadi gelap,
angin berhembus dengan kencang, kemudian haripun hujan dengan deras.
9. Gereja Katolik Kristus Raja Sambas - Kecamatan Sambas
Adalah
salah satu Gereja Katolik. Terletak di Desa Durian Kecamatan Sambas
Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat di bawah naungan Keuskupan Agung
Pontianak khususnya tergabung dalam wilayah dekenat Singkawang.
Tidak
sulit mencari Gereja ini. Gereja ini berada dekat Rumah Sakit Santa
Elizabeth. Berlokasi di Jalan Gusti Hamzah Sambas yang notebane-nya
adalah jalan provinsi, jadi berada di pinggir jalan raya provinsi.
Gereja Katolik Kristus Raja Sambas merupakan Gereja Tua di Kota Sambas.
*Gambar
diatas merupakan foto bentuk fisik Gereja bangunan lama, dewasa ini
sudah di rekontruksi, karena keterbatasan penulis, photo terbaru segera
menyusul.
10. Museum Negeri Perjuangan Sambas - Kecamatan Sambas
Museum
Negeri Perjuangan Sambas merupakan salah satu objek wisata daerah
Sambas yang terletak di Jalan Ahmad Sood Dusun Tumok, Desa Tumok
Manggis, Kecamatan Sambas. Ia dulunya merupakan rumah salah satu pejuang
Sambas yang bernama H. Sidarj Sood atau yang lebih dikenal dengan Tok
Kaye. Pendirian Museum Negeri Perjuangan Sambas berkat adanya gagasan
dari tokoh masyarakat yang sadar budaya dan tokoh-tokoh budaya Sambas
yang tergabung dalam Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya Dan Pariwisata
(disporabudpar).
Sesuai
dengan namanya, Museum Negeri Perjuangan Sambas merupakan sebuah
museum yang mengoleksi benda-benda yang pernah digunakan oleh
masyarakat Sambas dalam memperjuangkan Kemerdekaan Republik Indonesia
khususnya didaerah Sambas. Benda-benda yang dipergunakan merupakan
benda-benda yang masih sangat sederhana diantaranya beberapa jenis
tombak, pedang, dan keris.




















